Pendidikan Anak Jalanan

Meningkatnya jumlah anak jalanan di Indonesia menjadi salah satu masalah yang menjadi perhatian pemerintah. Ada banyak faktor kenapa anak-anak bisa turun ke jalan seperti keadaan ekonomi yang mendesak, tidak haromisnya keluarga sehingga anak menjadi tidak betah dan tidak nyaman berada di rumah, broken home yang menjadikan anak kehilangan arah dan menemukan teman-teman yang senasib di jalanan, atau anak yang memang dibuang atau dipekerjakan di jalan baik oleh orang tuanya sendiri atau oleh pihak-pihak tertentu.

Tidak sedikit lembaga-lembaga masyarakat yang ikut berperan serta menangani anak jalanan dan mengupayakan anak-anak jalanan untuk tidak kembali ke jalanan lagi. Karena bagaimanapun juga kondisi lingkungan jalanan tidak cocok untuk perkembangan anak-anak yang seharusnya mendapat perhatian penuh dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang ada.

Ada beberapa hal penting yang patut diperhatikan dalam melaksanakan pendidikan untuk anak jalanan, yakni bukan bagaimana mereka mengetahui teori-teori saja melainkan bagaimana mengimplementasikannya sehingga mereka tidak lagi kembali ke jalan. Sehingga pendidikan yang dilaksanakan lebih bersifat praktis sehingga mereka bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti pendidikan tentang reproduksi, pendidikan bagaimana cara melaporkan ke pihak berwajib jika mereka dilecehkan secara seksual ataupun menjadi korban penganiayaan, pendidikan untuk membela diri sendiri, serta pendidikan yang membasilitasi minat dan bakat mereka sehingga bias terus dikembangkan.

Kunci utama dari sebuah pendidikan bagi anak jalanan adalah kasih sayang. Karena tidak dapat dipungkiri anak jalanan merupakan kaum minoritas yang dianggap sampah masyarakat dan itu berarti hak kasih sayang mereka telah terenggut oleh pandangan dan sikap masyarakat yang merendahkan mereka.

Dibalik penampilan mereka yang kotor, kumal, dan kadang berperilaku kasar, mereka tetap anak-anak yang mendamba kasih sayang dan perhatian. Jika didekati dengan baik-baik mereka akan membuka diri dan menerima orang luar untuk masuk dalam kehidupan mereka.

Spelling Competition Meningkatkan Kecerdasan Bahasa

Spelling atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan mengeja adalah sebuah kegiatan menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam sebuah kata sehingga bisa merangkai kata yang dimaksud.

Belum banyak pihak yang mengembangkan kegiatan Spelling Competition ini yang memang mengutamakan kegiatan mengeja huruf. Kegiatan spelling ini cocok dilaksanakan untuk usai sekolah dasar, namun tidak ada salahnya jika diterpakan pada Pendidikan Anak Usia Dini sebagai salah satu cara pengenalan huruf, kata, da bahasa serta dilaksanakan di Kegiatan Pembelajaran Keaksaraan untuk melatih kemampuan menganalisis dan menguatkan ingatan untuk warga belajar orang dewasa.

Kegiatan mengeja ini dimulai dengan menggunakan kata-kata sederhana atau kata-kata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kemuadian dilanjutkan dengan level yang lebih sulit, seperti mengeja kata-kata serapan, mengeja bahasa latin, mengeja bahasa ilmiah dan sebagainya yang tingkat kesulitannya lebih tinggi.

Selain mengenalkan huruf dan kata-kata, kegiatan mengeja juga sangat penting untuk membangun kemampuan dalam menyusun dan merangkai kata dengan benar khususnya pada kata-kata ilmiah dan bahasa latin. Tentunya bahasa-bahasa ilmiah dan bahasa latin akan sering di temui dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi penting untuk diketahui dan dimengerti oleh masyarakat.

Kegiatan mengeja ini tidak semerta-merta hanya berupa kegiatan manyebutkan kata M-A-K-A-N menjadi MAKAN, melainkan juga bisa mneybutkan makna dari kata makan itu sendiri. Sehingga peserta didik tidak hanya cerdas dalam memasang-masangkan dan merangkai huruf tetapi juga bisa paham betul esensi dari kata-kata yang ada.

Pradnya Widya ditengah Minimnya Sanggar Tari

Tidak pedulinya pemerintah kepada sanggar tari klasik adalah sebuah ironi tersendiri karena secara tidak langsung sanggar tari klasik memiliki tugas penting yakni mengharumkan Yogyakarta dengan lulusan yang berkualitas.

Ketika anak-anak tersita waktunya dengan menonton televisi atau bermain internet, sanggar tari klasik makin jarang diminati. Sanggar yang berdiri tahun 1990 dibawah naungan Jurusan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni UNY ini berusaha untuk menghimpun tenaga guna menumbuhkan kembali kebangkitan seni tari di Yogyakarta khususnya. Tahun 1996 sanggar yang bernama Pradnya Widya ini sempat vakum dan baru kembali aktif pada tahun 2000.

Visi sanggar Pradnya Widya sendiri adalah sebagai tempat ajang kreatifitas dan apresiasi seni budaya masyarakat dalam rangka mengembangkan dan melestarikan nilai seni budaya.

Sanggar yang saat ini digawangi oleh Ibu Dra. Trie Wahyuni, M. Pd ini saat ini sedang aktif membuka kembali kelas-kelas tari klasik seperti kelas Jogja, Surakarta, Bali dan Kreasi Baru.

Saat ini Sanggar tari yang bertempat di Pendopo Tedjokusumo FBS UNY ini memiliki 135 siswa yang terbagi dalam 4 kelas tari klasik. Mayoritas siswa yang belajar di sanggar Pradnya Widya ini merupakan siswa sekolah, dan ada beberapa mahasiswa serta masyarakat umum yang ikut serta membangkitkan dan melestarikan kembali sanggar ini.

Pradnya Widya memiliki kelebihan tersendiri dalam mendidik siswa-siswanya dibanding dengan sanggar lain. Selain lokasinya yang berada di area kampus dan mendapat fasilitas yang cukup, pendidik tari di sanggar ini juga merupakan mahasiswa seni tari yang berpredikat terbaik, sehingga proses pelaksanaan pembelajaran dan pelatihan pun disesuaikan dengan kaidah pendidikan.

Kegiatan evaluasi yang dilaksanakan oleh sanggar Pradnya Widya setiap 6 bulan sekali adalah berupa penilaian kelas serta dilakukannya pementasan untuk masing-masing kelas tari.

Sanggar Pradnya Widya yang selalu aktif di hari minggu ini menjadi salah satu sanggar tari yang masih bisa bertahan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya melalui kegiatan tari.

Harapannya akan semakin banyak lagi generasi muda yang sadar akan budayanya dan berperan serta dalam melestarikan dan mengembangkan budayanya sendiri.

Shoho-Langkah Pertama

1000 langkah pasti diawali oleh satu langkah awal.

Dan langkah pertama merupakan sebuah pilihan, pilihan hidup tentang akan dibawa kemana hidup kita selanjutnya dan melanjutkan langkah-langkah selanjutnya.

Seperti nama Blog ini…”Morning Sun”…hadir sebagai pembuka hari dan pelengkap keajaiban setelah sebelumnya manusia menikmati indahnya bintang dalam kegelapan, kemudian Tuhan dengan tanganNya menunjukkan keindahan lain….bintang bernama matahari yang akan menemani manusia di siang hari.

Morning sun membawa mimpi akan sebuah harapan untuk bisa menerangi dan mencerahkan hidup semua orang. Hidup mereka yang tidur beratap langit, atau hidup mereka yang tidur beralas hangat dan empuknya kasur. Memberi harapan bagi mereka yang mencoba merajut mimpi dalam pelukan kemiskinan, menyadarkan mata, hati dan pikiran mereka yang hidup dengan kemudahan dan kecukupan……untuk selalu bersyukur dan berusaha……karena takdir tidak akan berubah kecuali mereka sendiri yang merubahnya……

Dan ini adalah sebuah usaha untuk merubah takdir……….meraih kemajuan dan menuju perbaikan untuk semua….